Andai Aku Menjadi Seorang Presiden

at Afro-Asian Conference, Bandung, 1-5 December 2034,

Ladies and Gentleman, please welcome President of Indonesia, Mr. Ridho Mochamad !

(audience : standing applause… woogh prok prok prok)

Mr. Ridho Mochamad : Thank you. Assalamuallaikum wr. wb, Good Morning. Honorable ones; for Egypt delegation, India delegation, South of Africa delegation, … , and for all audience at this historical place. First of all, let us praise to God, because of His blessing we are able to come here, to attend this Afro-Asian Conference. Today, i want to talk about three big points, first is about Food, Second is Education, and the Third is Tourism.

….

And if I believe, you believe, and we believe, everything is greatly possible !

Thank for the time, Good morning,

Wassalamuallaikum wr. wb.

Andai-aku-menjadi-Presiden

Saya membayangkan, salah satu momen di hidup saya ketika saya berdiri di hadapan 100an delegasi negara Non-Blok dalam sebuah konferensi Asia Afrika di Bandung. Sambil menghirup angin pagi yang bertiup sepoi-sepoi di lantai dua rumah, dengan ditemani jalanan yang sepi lenggang ga seperti biasanya karna hari ini adalah hari minggu, hmmm… it smells good. I dreaming that day when i become RI 1.

Untuk jadi orang nomor 1 di republik ini, sebagai seorang Pak Pres, Bung Presiden, atau sebagainya, butuh proses untuk menujunya. Salaman dimana-mana untuk dikenal, blusukan kemana-mana untuk pencitraan, bagiin sembako di daerah-daerah terpencil supaya bisa raih suara, dan metode-metode pencitraan lainnya ala kaum pecinta peraih popularitas dalam tempo singkat. Metode yang mulai populer di awal 2000an sejak jaman reformasi.

Jarang, jika tidak mau disebut tidak ada, calon pemimpin di milenium ini yang orasi dari satu desa ke desa lain, satu kecamatan ke kecamatan lain, untuk memaparkan mimpinya, memaparkan gagasannya, mendengarkan secara langsung aspirasi rakyat yang penuh emosi karna harus tidur dalam kondisi lapar di sebuah rumah reot yang harus ditempati lebih dari 5 orang didalamnya, yang ketika hujan datang, lantai mereka yang beralaskan tanah harus bercampur dengan air menjadikannya lumpur.

Orasi Presiden

Andai saya jadi Presiden, saya ingin bukan saya yang menginginkannya semata tapi karna orang-orang disekitar saya yang menginginkan. Sebab kasta pemimpin tertinggi adalah ketika ia dipilih sebagai pemimpin karena kehendak dari orang-orang disekitarnya, diilhami dari kisah Rasul yang diangkat sebagai pemimpin kaum muslimin oleh sahabat-sahabatnya. Soekarno yang dipilih sebagai presiden pertama republik ini oleh para rakyat yang telah mendengar orasi-orasinya.

Berlanjut lagi, saya membayangkan berdiri dihadapan rakyat tepat di Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, berorasi mengenai 3 fokus utama dalam masa pemerintahan saya :

  1. Pangan
  2. Pendidikan
  3. Pariwisata

Fokus Penanganan

Mengapa pangan menjadi nomor 1 ? sebab saya yang pernah menjadi mahasiswa tahu betul bagaimana rasanya ketika diminta untuk mengerjakan tugas tapi perut ini lapar, perut ini kosong. Tentu pikiran akan menjalar kemana-mana, alias tidak fokus. Tapi saya bersyukur, karna terkadang mie instan dengan kuah kari bertabur bawang gorengnya masih bisa mengganjal perut saya yang kosong. Bagi saya yang masih bisa punya cukup makanan, bisa dibilang beruntung. Coba kita bayangkan, bagaimana jika orang di desa sana, lapar, haus karena daerahnya tidak diguyur hujan dalam waktu 1 bulan lebih, tidak ada bahan makanan karena kondisi paceklik, pertanian gagal panen karena sedikit para sarjana pertanian yang mau turun ke sawah. Ga munafik memang, mereka para sarjana pertanian tidak mau turun karena upah yang didapat dari bertani ga seberapa karna hasil tani kita kalah pamor akibat masa pemerintahan lalu yang memicu impor besar-besaran.

Maka dari itu, ini perlu dibenahi. Pertanian perlu di fokuskan, Kalimantan dengan tanahnya yang kuat cocok untuk ditanami pohon-pohon tinggi sekaligus menjadi paru-paru dunia. Sumatera dengan tanah tingginya cocok untuk ditanami buah-buahan, kopi, palawija lainnya. Jawa dengan ke khasan tanahnya cocok untuk ditanami padi dan tanaman penyumbang karbohidrat dalam tubuh lainnya. Sulawesi pun begitu. Papua dengan luas wilayahnya cocok untuk menjadi penyumbang oksigen layaknya Kalimantan. Tak cuma pertanian, sejak Majapahit kita terkenal sebagai negeri Maritim. Tentu ini perlu diberdayakan. Tingkat hasil laut harus dinaikkan. Dari sabang sampai merauke seluruhnya dikelilingin dengan lautan, hasil lautan ini cukup untuk mengisi kebutuhan isi perut rakyat dari hari ke hari.

Satu yang pasti, jika rakyat mau, pemerintah juga mau, kita semua mau, pastilah, mestilah, tentulah kita bisa mandiri pangan. Dunia butuh Indonesia, dunia butuh makan, dunia butuh pangan. Jika kita bisa mandiri pangan, selanjutnya kita wajib swasembada pangan bukan karena mencari pemasukan semata tapi lebih karena kita tahu bagaimana rasanya kelaparan, dan kita pingin Indonesia menjadi sumber kekuatan pangan dunia sehingga tak perlu lagi ada kelaparan, di ujung Afrika sana, di ujung benua Amerika sana, di Asia sana.

Yang kedua, yaitu pendidikan. Kalau perut sudah kenyang, tenggorokan lega tanpa rasa haus dan bibir kering karna menahan haus, kita pun bisa berpikir lebih jernih. Baru selanjutnya kita berpikir tentang pendidikan yang layak. Pendidikan yang berfokus pada hal-hal praktis sehingga tidak melulu teori tapi juga ada praktiknya. Tidak hanya mengajarkan F= m x a; semata tetapi lebih dari itu, praktik nyata dari rumus tersebut. Sehingga penerapan dan kegunaannya jelas.

Pendidikan menjadi tumpuan utama bagi kita sebagai bangsa untuk maju. Sawah milik petani bisa maju jika yang petani itu cukup pengetahuan untuk mengelolanya dikala kemarau, dikala musim hujan. Laut kita bisa menghasilkan ribuan kali lebih banyak dari hasil yang didapat sekarang jika nelayan kita punya pengetahuan lebih. Orang-orang di pedalaman Kalimantan dan Papua sana bisa menikmati hasil bumi nusantara ini jika cukup pengetahuannya. Dan Indonesia bisa maju, jika pemerintahannya pun cukup pengetahuannya untuk mengatur bangsanya.

Jepang yang ditahun 1945 terkena serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki mendapati kemunduran yang begitu sangat, sehingga perlu perbaikan di berbagai sektor. Pemerintahnya pun tanggap dengan segera mereka mengirimkan warganya ke luar negeri untuk belajar berbagai macam disiplin ilmu. Tujuannya satu, untuk membangun bangsa yang maju, supaya mereka ketika balik ke negerinya bisa menjadi lilin yang menerangi kegelapan rakyatnya, gelap dari pengetahuan. Pemerintah jepang begitu sadar dengan pentingnya pendidikan bagi rakyatnya.

Membenahi pendidikan, cukup banyak yang perlu diubah. Jam pelajaran yang terlampau lama hingga 8 jam disekolah serta waktu sekolah hingga 6 hari, sungguh tidak efektif bagi para anak-anak hingga berusia 18 tahun. Ini didasari pada realita yang ada, mereka masih butuh waktu yang lebih banyak untuk meng-aktualisasikan hobi mereka, namun ini bertabrakan dengan jam sekolah. Ini perlu dirubah.

Finlandia adalah salah satu contoh pendidikan yang sukses membuat para pelajarnya memahami apa kemauan dan cita-cita mereka sendiri sehingga mereka bersemangat setiap kali melangkahkan kaki masuk ke pintu sekolah. Mereka datang ke sekolah karena ingin meraih ilmu guna meraih cita-cita mereka. Bukan karena paksaan.

Kemudian, pemerataan pendidikan haruslah ditingkatkan. Jakarta sebagai ibukota boleh-boleh saja menjadi kiblat sementara pendidikan di Indonesia, tapi ini perlu diluruskan, bahwa tiap daerah seharusnya punya pendidikan yang merata sehingga para lulusannya bisa membangun daerahnya masing-masing tanpa perlu ke pusat Ibukota ketika telah lulus untuk mencari kerja semata. Dengan begini, tentu akan meningkatkan value dari daerah tersebut, meningkatkan pertumbuhan industri di daerah tersebut, dan kalau bulan Ramadhan telah berakhir, tentu jumlah pemudik dari jakarta bisa menurun, sebab mereka telah betah tinggal membangun industri di masing-masing wilayahnya.

Yang ketiga, sekaligus point terakhir adalah Pariwisata. Indonesia kaya, kaya sekali dengan segala wisata alam indah di berbagai pulau. Tak perlu kita repot-repot menciptakan wahana buatan untuk berlibur, cukup pergi saja ke pinggir pulau, dan disana kita bisa menemukan pasir putih pantai bersih dengan semilir angin. Saya pernah berlibur ke pulau Bali, disana pantainya indaaaaah sekali menurut saya. Dan sebegitu indahnya pula bagi turis mancanegara. Jika dari satu pulau bali yang ukurannya sekecil itu saja bisa menampung jutaan wisatawan tiap tahunnya, mengapa tidak kita berdayakan lebih dari 13.000 pulau-pulau di Indonesia untuk meraih tambahan devisa.

Candi Buddha yang sangat besar kita punya, sebut saja borobudur. Binatang yang dianggap dari zaman prasejarah dulu, Komodo, kita punya. Setetes alam surga di timur papua, Raja Ampat, kita pun punya. Sungguh Tuhan menganugrahkan keindahannya bagi tanah nusantara kita. Dan kita hanya perlu untuk merawatnya, menjaganya untuk anak cucu kita, dan mengenalkannya kepada dunia supaya lebih bersyukur kepada penciptaNya.

Tiga fokus utama telah saya jabarkan diatas, namun segala sesuatunya perlu dasar untuk kita rakyat Indonesia saling bergotong royong satu sama lain, satu rasa, sebagaimana dahulu memperjuangkan kemerdekaan. Dasar kita telah kokoh dibuat oleh founding father dan para sahabatnya, dasar kita Pancasila. Biarpun beragam kita tetap satu, keberagaman kita menjadi semangat kita, menjadi nilai lebih bagi bangsa kita. Indonesia bukan cuma milik saya, bukan cuma milik kamu, bukan cuma milik konglomerat pribumi yang tinggal di singapura, bukan cuma milik para warga cina keturunan, bukan cuma milik para orang papua, bukan cuma milik segelintir orang-orang tiap daerah, tapi Indonesia milik kita semua.

Kopi Hangat

Sreeeept… semua melintas begitu cepat memasuki ruang waktu. Tiba-tiba suara dari bawah menyadarkan saya dari lamunan. Secangkir kopi hangat berbalut harum robusta yang masih setengah penuh, menemani di waktu gerimis hujan, di lantai 2 rumah saya. Β Indah jika saya bayangkan waktu dimana saya bisa meraih impian saya dalam lamunan tersebut.

Tidak lama berselang, suara dari bawah tersebut semakin jelas, memanggil-manggil nama saya. “Papa, papa, selamat ya paaa…” teriak anak-anak dan istri saya. Saya pun heran dan bertanya, “Ada apa dek, ada apa ma ?”. Anak saya pun segera menyalakan televisi dan kemudian kami sekeluarga pun melihat kabar terbaru mengenai hasil perhitungan resmi KPU yang menempatkan pasangan Ridho Mochamad dan wakilnya dalam peringkat nomor 1 pemilihan Presiden & Wapres RI periode 2034 – 2039.

“Alhamdulillah” saya berucap dalam hati, memuja Sang Pencipta atas segala rahmatNya.

Anak saya pun berujar, “Pa, jika nanti telah resmi dilantik, papa jangan sombong ya, tetap luangin waktu buat kita”. Sambil tersenyum saya menjawab, ” InsyaAllah tentu papa akan tetap sama seperti yang dulu, yang meluangkan waktu untuk anak-anak papa dan untuk mama. Papa hanyalah anak dari seorang ayah yang pekerja keras yang terus menerus menafkahi anaknya meskipun sedang dalam kesulitan, sedangkan kamu adalah anak dari Presiden RI, sebetulnya kamulah yang dihadapkan pada tantangan tersulit untuk menjaga hati dari kesombongan.”

Kemudian saya pun menatap istri saya, “Ma, segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmatNya dan sebesar-besarnya rasa terimakasih ini aku ucap padamu. Kamu yang telah setia mendampingiku berkeliling ke berbagai pelosok desa, kamu yang telah setia dalam suka dan duka. Sehingga hari ini aku semakin yakin, bahwa kamu tercipta untukku, dan aku tercipta untukmu.”

Rasa suka tersebut diakhiri dengan satu kata, menandai kesiapan saya untuk memegang jabatan amanah baru sebagai seorang Presiden RI periode 2034-2039, “Bismillah…”

—————————————————————————————————————————-

Tulisan ini saya harap bisa menginspirasi sebagian besar jiwa muda di Indonesia, bahwa masih ada harapan bagi kita untuk menjadikan negeri ini, negeri yang makmur sebagaimana dicita-citakan dalam undang-undang dasar 1945. Pun tulisan ini saya tulis sebagai bagian ajang keikutsertaan saya dalam festival lomba blog yang diadakan oleh Komunitas Blogger Sinjai dalam blog berikut ini.

Advertisements

23 thoughts on “Andai Aku Menjadi Seorang Presiden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s